Ini saya sedang menepati poin no2 dan 3 di Jurnal Hamil #14.
Pertama kali saya baca buku setebal tiga cm ini di tahun 2008. Di tahun 2006, saat saya & Gele jalan-jalan di daerah penjual buku-buku bekas di Jl Dewi Sartika Bandung, dia yang mengenalkan saya pada buku ini. "Ini buku bagus & baru aja dibahas ama (koran) Kompas", kata Gele sambil nunjuk ke buku yang judulnya Menyusuri Lorong-lorong Dunia. Saya waktu itu hanya ngangguk-ngangguk dan janji bakal beli bukunya kalau bawa uang lebih.
Sejak itu saya nyari-nyari buku karyanya Sigit Susanto ini di berbagai toko buku dan hasilnya nihil. Saya telusuri di toko online juga gak ada. Hingga akhirnya saya lupa bahwa saya pernah begitu ingin baca kisah Sigit menyusuri lorong-lorong dunia.
Kemudian di tahun 2008, seorang teman bernama Alek, tanpa sengaja mengaku punya buku terbitan Insistspress tersebut. Ugh saya langsung pinjam! Rasanya kayak ketemu jodoh begitu buku ini ada di genggaman saya. Saya baca dan saya telan semua tulisannya Sigit gak hanya sekali, tapi berkali-kali hingga sekarang. Pinjam-balikin-pinjam-balikin jadi rutinitas saya dan Alek. Hingga pada waktu saya menikah, dia 'menyerah' dan kasih saya buku ini sebagai kado pernikahan. Huihihihi :D
Sigit Susanto bersama istrinya yang asli orang Swiss melakukan perjalanan di berbagai negara di benua Eropa, sedikit di Amerika, dan ada pula kunjungannya ke benua hitam, Afrika. Pria yang pernah bekerja sebagai pemandu wisata di Bali ini silaturahmi ke tempat-tempat yang sudah dia dan istrinya rencanakan. Kita tahu sekarang banyak buku-buku yang mengisahkan perjalanan. Saya pernah baca beberapa pula buku dengan tema macam itu. Namun kisahnya Sigit saya simpan di top of the top-nya kisah perjalanan favorit saya. Kisah perjalanan yang dia tulis punya tiga tema besar: sastra, politik, dan budaya. Terutama banyak di sastra.
Saya gak tahu sedalam yang Sigit tahu tentang sastra meski saya dahulu sekolah jurusannya sastra. Dia memang doyan baca dan baca dan baca, sekali lagi: baca. Kedoyanannya ini yang bikin kisah perjalanan dia kaya sekali dengan info-info lucu, menyentil, dan bikin saya senang karena saya jadi tahu. Bukan dengan kisah kuliner semata atau kebanggaan akan "horeee i've been there!". Hobinya juga selain baca ya nulis. Tulisan yang ada di buku ini pernah dimuat di beberapa koran dan majalah nasional, seperti Kompas dan Tempo. Oya, berdasarkan info di bukunya juga saya jadi tahu bahwa Sigit aktif di berbagai milis kayak Apreasi Sastra dan Jalan Sutra.
Ada 13 negara (kota) yang kisahnya Sigit tuangkan dalam buku ini. Mulai dari Amsterdam, Pulau Ischia, Praha, Tunisia, Bulgaria, Strasbourgh, Venesia, Roma, Rusia, London, dan ditutup dengan Paris.
Saya pikir lewat pengalaman Sigit melawat banyak kota di beda-beda negara ini ada pelajaran yang bisa dicontek. Yakni tentang memperoleh dan menikmati 'rasa' sebuah perjalanan. Sebelum dia pergi travelling, dia browsing dulu tentang negara atau kota yang hendak dia tapaki. Dia nongkrong di perpustakaan. Dia cari literatur yang ada kaitannya dengan tempat yang hendak dia kunjungi. Kebanyakan literatur yang dia baca bermuara pada karya-karya tokoh sastra atau seniman.
Jadi kalau dia ke Amsterdam misalnya, dia datangi itu rumah Multatuli dan Anne Frank, sambil tentu saja dia ulas sekilas tentang siapa mereka. Di Praha dia menyambangi kafe tempat nongkrongnya sastrawan macam Rilke, Kafka, dan Max Brod, juga Sigit berziarah ke makamnya Kafka, sembari gak ketinggalan tulisannya mengenai siapa itu Kafka dan sedikit pemaparan jalan hidupnya Kafka. Lalu ada Marx di London, rumah Hemingway di Kuba, Jejak Frida Kahlo ditelusurinya di Meksiko, sampai ke rumahnya Dostoyevsky di Rusia.
Apa saya tahu siapa tokoh-tokoh sastra dan seniman itu? Tidak, paling mentok di Hemingway , Kahlo, dan Kafka. Sisanya manalah saya tahu. Nah ini yang menarik dari Sigit. Dia bisa mengisahkan perjalanan sambil menuangkan kisah atau pengalaman hidup tokoh-tokoh itu dengan bahasa yang sederhana dan membumi. Saya nangkap ada hubungan yang jadi lebih dekat (akrab) antara Sigit dan para sastrawan itu, melalui jejak kaki yang ditinggalkan Sigit di makam, rumah, sampai ke kafe. Mungkin rasanya sama kayak kalau saya jalan-jalan, misal ke Candi Borobudur, lalu saya menyentuh dinding candinya, menghirup udara yang (kurang lebih) sama dengan Syailendra dulu juga hirup, saya menginjak lantai candi yang pernah diinjak oleh Ratu Pramuwardhani injak juga beribu tahun lalu. Rasanya gimanaaaaaaaaaaa gitu... Udara, dinding dan alas yang kita hirup, sentuh, dan injak sama dengan manusia ribuan tahun lalu. Eugh. Rasanya kayak masuk ke lorong waktu yang sebenarnya gak bawa kita kemana-mana, kerasa tapi gak kasat mata. Hanya bisa dirasakan melalui sentuhan atau pijakan.
Tentu sastra bukan satu-satunya yang diamati Sigit. Bosan dong sastraaaa melulu :)) Dia juga membahas tentang kunjungannya ke Menara Eiffel, megahnya Colloseum di Roma, cantiknya Gereja Notredame, samudera pasir di Gurun Sahara dan masih banyak lagi tempat-tempat yang sudah beken. Tapi lagi-lagi khasnya Sigit keluar, selalu ada sisi sejarah dan budaya yang dia angkat berdasarkan pengamatan yang dia bandingkan dengan kondisi nusantara dan bacaan-bacaan dia. Kayaknya seru kalau kita jalan-jalan dan dipandu sama Sigit. Pengetahuannya banyak sekali.
Begitu khatam buku Menyusuri Lorong-lorong Dunia I rasanya ini otak saya sedang 'menggendut'.
Biar tambah lengkap, baca juga yang ini
0 komentar:
Poskan Komentar